Jejak-jejak peran
Muhammadiyah telah menyebar di berbagai tempat di Nusantara berpuluh tahun
silam. Melalui lembaga pendidikan, pesantren, rumah sakit, panti asuhan, dan
sebagainya telah mewarnai perjalanan negeri ini. Tentu tanpa harus merasa
paling mencintai NKRI.
Peran Muhammadiyah tersebut seperti membekas dalam sanubari. Seperti
dikisahkan seorang alumni Perguruan Muhammadiyah Belawa. Kabupaten Wajo,
Sulawesi Selatan.
Pagi itu, saya
seperti merasakan 25 tahun yang lalu. Kami bertabrak-tabrakan di depan cermin
yang tergantung di atas dinding rumah. Seperti ketakutan bel tanda pelajaran
akan dimulai. Bergegas menuju halaman sekolah. Saya juga mendengar
hentakan-hentakan kaki dari rumah sebelah kiri dan kanan.
Rumah kami tidak
kalah riuhnya. Mungkin 25 tahun yang lalu hentakan kaki-kaki kami sembari
menundukkan badan dan salaman ke kedua orang tua, pamitan berangkat sekolah. Tanpa
uang jajan. Tanpa kendaraan. Tanpa diantar atau dijemput apalagi bermimpi ada
hp ditangan. Itu tidak ada dalam cerita masa-masa kami sekolah di kampung. Yang
ada cerita tentang sepatu robek, sudah tak nyaman dipakai tapi takut tidak
masuk kelas karena sang guru mewajibkan mengenakan sepatu.
Akhirnya sepatu
ditenteng di tangan. Sampai di sekolah ditaruh di bawah bangku. Atau cerita tentang
kami para siswa wajib menggunakan Bahasa Indonesia di sekolah, didenda dengan penanda
kapur tulis. Agar tidak ketahuan kapurnya di sembunyikan atau sengaja dihilangkan.
Akhirnya bebas semua menggunakan Bahasa Bugis.
Baca Juga : STIKIP Bulukumba Berubah Menjadi Universitas
Jum'at berkah 7Juni
2019 saya betul-betul merindukan 25 tahun yang lalu. Sebelah kanan rumah kami
10 bersaudara, sebelah kiri 7 bersaudara dan di dalam rumah kami 10 bersaudara
coba bayangkan 3 rumah saja sudah 27 siswa alumni dan pagi itu 90% hadir semua
bersuka-cita hendak bernostalgia dengan kenangan. Tidak sedikit alumni yang
ternyata "jodoh"nya satu kelas atau beda angkatan. Tak terkecuali dapat
jodoh dengan alumni rumah sebelah kiri
dan kanan rumah kami.
Mmmmh...akhirnya
tidak cukup tinta untuk menceritakan kisah-kisah kami di kompleks perguruan
Muhammadiyah Belawa. Yang dikenal dengan Bumi Tosagena..Tuo Sipurennu, Mali siparappe,
Mallilu Sipakainge
Sebagaimana
diceritakan : FB Ulfah Mawardi

